5 Maret 2010

Sekretariat Baru Kita!! Silahkan berkunjung!!!

Untuk kelancaran organisasi JANTERA,berkaitan dengan keberadaan sekretariat (base cemp). para Pengurus sudah menetapkan sebuah rumah untuk di sewa selama 6 bulan di daerah geger arum, belakang kolam renan UPI. negosiasi sewa rumah telah dilaksanakan, negosiator yang terdiri dari KADAT Dkk, telah berhasil menurunkan harga sewa dari 15 jt/tahun jadi 10 jt/tahun. karena kebutuhan keberadaan sekretariat sangat mendesak, akhirnya pengurus mengambil keputusan untuk membayar DP sewa sebesar 1,5 jt, dengan sarat pelunasan sewa harus selasai selama tenggang waktu 1 bulan dari pengumuman ini dikeluarkan. maka dari itu kami mengharafkan bantuan kepada seluruh keluarga besar Jantera untuk menutupi sisa sewa rumah sekretariat Jantera yang baru.
Bantuan dapat di kirim langsung, atau melalui no rek. 0171617518. an Teuku Ahmad Hidayat, BNI Cab UPI Bandung. demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiaanya kami ucapkan terima kasih.

Tertanda
Ketua Adat Jantera Geografi UPI..

1 Maret 2009

Surga di Atap Nusa Tenggara





Oleh Hartono



Agustus 1991 - Angin muson tenggara yang kering masih berhembus di Pulau Lombok, menghadirkan kemarau panjang dengan matahari terik menyengat. Medan berpasir di tengah savana menjadi tantangan hebat bagi mereka yang telah membulatkan tekad untuk mendaki hingga puncak. Setahun berselang, setelah Gunung Rinjani diresmikan sebagai taman nasional.

Langit cerah berawan ketika kami baru saja meninggalkan pos pendakian di Desa Sembalun. Pagi itu udara masih sejuk, suhu belum melampaui 240 Celcius. Kerucut strato Rinjani (3.726 m dpl.) menjulang tinggi di antara luas hamparan savana (padang rumput yang luas membentang diselingi sedikit pepohonan). Dengan berjalan agak lamban kami terus merambah ketinggian, melintasi jalur pendakian yang sebaiknya tak menjadi pilihan pada musim itu, yaitu jalur Sembalun – Plawangan – Puncak Rinjani. Ya, sebuah jalur pendakian miskin air sebagai pengaruh musim kering. Kami menyusuri punggung gunung, sesekali memotong kokok (sungai; istilah lokal) yang hanya berupa lembah-lembah kecil kerontang, tak lagi memiliki aliran air.

Sekira sembilan jam kemudian kami tiba di Plawangan, tempat di mana para pendaki biasa mendirikan tenda atau tempat peristirahatan. Plawangan (2.656 m dpl.) merupakan camp terakhir sebelum melakukan summit attack ke Puncak Rinjani. Mengikuti kebiasaan, kami pun memutuskan untuk bermalam di sana. Beberapa tenda sudah berdiri beberapa saat menjelang senja tiba.

Menurut penduduk di Sembalun, di Plawangan masih terdapat sumber air. Akan tetapi, meskipun telah melakukan berbagai usaha pencarian sumber air itu tak pernah kami temukan. Tentu sudah bisa ditebak, malam itu kami lalui dengan dahaga yang luar biasa. Untungnya, rasa lelah membuat kami cepat terlelap dan melupakannya.

Selepas terjaga keesokan harinya, pencarian air kembali dilanjutkan. Kami berpencar menyusuri lembah-lembah dan dinding patahan di sekitar Plawangan. Nihil! Pencarian selama dua jam itu tak mempertemukan kami dengan setetes air. Keadaan itu membuat rencana pendakian terpaksa kami tangguhkan.

Kami memutuskan untuk turun ke Danau Segara Anak (2.008 m dpl.) yang harus ditempuh dalam 4, 5 jam perjalanan. Padahal, waktu tempuh ke Puncak Rinjani hanya sekira 5 jam lagi. Apa boleh buat, kami tak berani berspekulasi untuk mendaki tanpa air, sebab di medan berpasir yang kering berdebu, ancaman dehidrasi membayang setiap waktu.

Lewat tengah hari, sampailah kami di tepi danau itu. Betapa segar merasakan dingin air melintas di kerongkongan. Dahaga terlepas dengan mereguk air danau yang tawar, meskipun belerang yang terkandung di dalamnya masih jelas terasa. Sejenak kami melepas lelah sambil melihat kepakan manis sayap-sayap burung belibis. Ritual istirahat kami lanjutkan sambil memancing ikan dengan kail yang kami beli di Mataram. Danau itu memang sengaja ditanami ikan oleh pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat. Salah satu jenis yang menjadi penghuninya adalah mujair dan ikan mas karper. Beberapa di antaranya segera menjadi penawar perut lapar kami.
***
Pukul 01.20 WITA, kami kembali berjalan menerobos dinginnya udara pagi, menyusuri jalan setapak yang menanjak dengan kisaran kemiringan 400–800, menuju Plawangan, lalu mendaki ke puncak. Keadaan alam terus berubah seiring bertambahnya ketinggian. Dari Plawangan, variasi vegetasi semakin berkurang, yang ada hanyalah edelweis dan rerumputan. Selanjutnya kami hanya melihat onggokan batu-batu dan hamparan pasir tanpa vegetasi sama sekali. Karakteristik medan tersebut sangat berpengaruh terhadap kecepatan pendakian. Kadar oksigen terasa semakin tipis, sementara pengaruh gravitasi terasa jauh lebih kuat, seolah berusaha menarik kami ke bawah.

Delapan jam sejak meninggalkan Danau Segara Anak, akhirnya kami berhasil menggapai puncak. Langit cerah, tetapi suhu setinggi 300 Celcius mulai membuat kami gerah. Kulit wajah terasa mulai mengelupas. Namun, terik panas dan lelahnya perjalanan itu jelas mendapatkan pengganti yang setimpal.

Keindahan alam terbentang sejauh mata memandang. Kami serasa belum percaya, Tuhan memberikan kesempatan untuk menyaksikan pesona surga di atap Nusa Tenggara. Setiap sudut yang terlihat seolah bercerita tentang misteri-misterinya, juga tentang sejarah panjang yang membentuk dan menghadirkannya.

26 Desember 2008

Jantera Expedition at Sumbing and Sindoro mountain

Puncak Sindoro (3155 mdpl)

Puncak Sumbing(3356 mdpl)
Semangat terbakar di Lintasan Panjang dan Berbatu

19 desember 2008, 7 orang anggota jantera menuju kledung pass untuk memulai ekspedisi Double S (sindoro-sumbing).. Kedatangan tim disambut kabut tebal yang menutupi daerah kledung ini, hal ini tidak menyurutkan langkah para pendaki untuk melakukan pendakian. Mulanya kedua gunung ini bersembunyi dibalik awan yang menutupi hampir seluruh tubuh gunung, namun menjelang petang awanpun mulai hilang tampaklah keelokan kedua gunung ini bak raksasa yang bangkit dari tidurnya. Pada tanggal 19 desember tersebut tim dijadwalkan akan melakukan pendakian menuju gunung sumbing terlebih dahulu, hal ini mempertimbangkan kondisi medan sumbing yang lumayan menguras tenaga dan kondisi tim yang dalam keadaan fit. Sebelum memulai pendakian tim melakukan pengurusan perijinan pendakian di basecam Sumbing yang terletak tidak jauh dari kledung pass. Disana tim mendapat informasi jalur pendakian dan menyiapkan bekal air yang akan dipakai selama pendakian. Pos sumbing ini dikelola oleh karang taruna setempat yang menamai dirinya dengan STICKPALA. STICKPALA merupakan kumpulan pemuda daerah setempat yang peduli akan pentingnya kegiatan alam terbuka. Pendikianpun dimulai, tim mulai melewati jalan berbatu untuk menuju pos pendakian satu, medan untuk menuju pos 1 tidak terlalu sulit, tim melewati beberapa perkebunan dan perumahan rakyat. Tepat pada pukul 11 pagi, tim berhasil mencapai pos 1. Tim beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Setelah penat lumayan berkurang, tim langsung menuju pos 2 yang terdapat pada ketinggian, jalanan menuju pos 2 merupakan jalur yang panjang dan lumayan menanjak, ditengah-tengah perjalanan tim merasa sangat bersyukur karena di tempat tersebut terdapat sumber air, tim tidak menyia-nyiakan hal tersebut tim langsung mengisi perbekalan air yang telah terpakai selama mencapai pos satu. Setelah perbekalan air telah dirasa cukup tim langsung merencanakan bergerak, tetapi sebuah kejadian yang tidak terduga terjadi, salah seorang anggota tim terjatuh pada tebing air yang licin, kejadian ini bisa dikatakan cukup lucu( Xory brow), dikarenakan bahwa anggota tim yang tidak mau disebutkan namanya tersebut memakai sepatu yang cukup bermerk (...). Untung saja, kejadian tersebut tidak menyebabkan cedera pada anggota tim, setelah mengeringkan pakaian tim langsung bergerak menuju pos 2........... Bersambung